19 Agustus 2018

08 Januari 2018

Berbicara Tentang Orang Hebat.

Orang Hebat. dua kata, satu frasa, ratusan penafsiran.

bicara tentang orang hebat, yang pertama kali pop up di otak kita pasti gak jauh-jauh dari presiden, tokoh-tokoh revolusioner, a rich man comes from a poor man, dan apalagi? sebutkan sebutkan.

bagi gue, orang hebat adalah orang yang berani mengambil keputusan. percaya gak percaya, orang-orang hebat gak ada yang tidak memutuskan apapun di hidupnya. kalau gue boleh menyisir 'orang hebat' maka berbagai maca aspek hidupnya bisa dikatakan hebat (ketika dia sudah berhasil).

masyarakat akan mengatakan Jono (20) hebat karena dia berhasil mengembangkan bisnis pecel sayur keluarganya hingga ke manca negara dan meraup omzet hingga miliaran rupiah dari inovasinya. Jono mendapatkan cap 'hebat' dari istri, anak, keluarga, hingga tetangga bahkan dunia. tapi coba sekarang kita ambil  kasus lain serupa yang keadaannya berbalik; Usep (20) adalah seorang anak yang terlahir dari keluarga petani miskin. suatu hari ia memutuskan untuk menjual satu-satuya kerbau Sang Bapak untuk membuka bengkel kipas angin di kampungnya. tapi karena satu dan lain hal, Usep akhirnya gagal. bengkel kipas anginnya berakhir gulung tikar. semua orang menyalahkan Usep yang telah lancang menjual kerbau bapaknya, Usep dicap sebagai anak durhaka dan gagal. Usep depresi dan melarikan diri ke Somalia jadi bajak laut.

---

bagi gue, dua orang di atas sama-sama hebat. di saat anak seusia mereka berani mengambil keputusan untuk menahkodai sebuah bisnis, kita hanya berani minta ke orang tua dan menunggu rezeki datang dari langit sambil main gitar dan nonton drama korea. mereka memikirkan sebuah langkah untuk berubah dan bangkit dari kursi nyaman lalu kemudia mengeksekusi keputusan mereka. gaga atau pun berhasil itu hal yang di luar kuasa manusia.

gue suka iri sama orang-orang yang di usia gue udah ikut Indonesian Idol  atau udah secara consist nulis atau kerja atau menang kompetisi atau ikut conference di luar negeri atau jadi volunteer di acara amal atau jadi tim SAR di pedalaman-pedalaman Indonesia; AT LEAST YOU GUYS MAKE SOMETHING WHILE IM NOT. mereka membuat keputusan di hidup mereka, mereka jalanin hidup mereka gak cuma sekedar planning dan wacana-wacana. they make a freakin good decision ketika yang hanya gue lakukan adalah spending money on shits stuffs and unimportant things. gue mengagumi mereka, orang-orang hebat itu.

let me figuring it out, on some points why i adore a decision maker.

1. mereka gak kebanyakan mikir

buat beberapa orang berpikir itu keharusan. oke, contohnya gue. sebagai seorang pemikir gue bahkan gak pernah sadar kalau dari gue melek sampe gue tidur lagi gue gak berhenti berpikir. iya sih, Decrates bilang cogito ergo sum, dosen gue yang agak kefilosof-filosofan sering banget bilang eksistensi manusia itu ada ketika dia berpikir. enggak, gue mikir terus bukan karena Decrates atau dosen-dosen gue. dewasa ini, gue gemar berkontemplasi dan hasilnya adalah dari rentetan kontemplasi gue, i always ask "why".

"kenapasih negara ini gak federasi aja?"

"kenapasih orang-orang seneng banget kawin while they arent wealth enough?"

"kenapasih ada orang yang gak malu ngelakuin kesalahan"

dll

dll.

end up, gue selalu baca buku malah kata orang gue udah bukan baca buku lagi tapi makan buku. gue nyari jawaban atas pertanyaan gue, gue diskusi, gue nanya pas kuliah.

yak, kalau tes-tes kepribadian gue tergolong INTP. Si Pemikir katanya.

ayah sering banget bilang jangan kebanyakan mikir, gue sudah berusaha. tapi otak gue gak pernah berhenti mempertanyakan keanehan-keanehan orang lain. iya, gue gak bisa membiarkan kedunguan-kedunguan terjadi di depan mata gue atau terjangkau oleh telinga gue.
tapi akhirnya waktu gue habis untuk berpikir. gue gak menghasilkan sebuah produk riil sebagai bentuk eksistensi gue.
sedangkan, para pembuat keputusan. mereka gak cuma berpikir tapi juga bergerak, mengeksekusi, dan memutuskan. setidaknya mereka gak cuma mikir tapi buah pikirannya dijadikan sebuah tindakan nyata.

so gengs, think doesnt always good.

hayaa 0 : decision maker 1.

2. mereka menentang aksioma-aksioma

sekarang coba kita lihat Si Para Pembuat Keputusan ini dari sisi yang lain. orang-orang yang tidak memutuskan apapun atau memutuskan sesuatu yang kecil atau dengan kata lain mereka yang hanya mengikuti arus adalah mereka yang membiarkan diri mereka terbentuk, terbangun, dan terakhir terdikte oleh masyarakat. mereka enggan atau bahkan tak berani untuk memutuskan apa yang menurut mereka benar dan apa yang sebenarnya mereka butuhkan. dan tanpa disadari kemerdekaan yang dijunjung oleh masyarskat kita justru tercederai oleh keimbisilan mereka sendiri.

contohnya gini:

Juju adalah perempuan berusia 30 tahun yang telah mapan. ia cantik seperti tipikal orang-orang Sunda yang kulitnya halus dan lembut, rambut hitam, hidung mancung dan lemah lembut. namun, ia enggan untuk menikah. bukan karena dia benci laki-laki atau karena Juju memiliki kelainan, sesederhana karena ia ingin menikmati hidupnya. ia ingin hingga tua ia bebas kemana pun ia mau tanpa dituntut oleh urusan kerumah-tanggaan dan cinta-cintaan. baginya, cinta dapat dirasakan ketika ia berbagi dan menyebarkan kebahagiaan. Juju biasa mendapatkan cinta dan dapat menuangkan hasrat cintanya pada anak-anak jalanan yang ia temui di panti sosial dan melalui buku-buku yang ia tulis. Juju telah merasa lengkap.

Namun orang tua Juju menuntut ia untuk menikah. bagi mereka menikah adalah bentuk penyempurnaan agama. lagipula mereka ingin menimang cucu. Juju kerap bersitegang dengan orangtuanya tentang pernikahan ini. banyak laki-laki di luar sana yang bolak-balik mengetuk pintu rumah orangtua Juju untuk mempersunting anaknya. namun lagi dan lagi Juju menolak. baginya, agama seharusnya tak boleh menuntut penganutnya untuk menikah dengan alasan bentuk penyempurnaan. karena bagi juju menikah bukan sebuah kebaikan yang dapat menyempurnakan agamanya dan menikah bukan lah ibadah ketika ia tidak dengan ikhlas menjalankannya. Persitegangan ini membuat Juju sedih dan dilema. Namun hati kecilnya menolak. 

perntanyaan gue, apakah Juju menikah?

kalian bebas memikirkan apapun jawabannya. namun apapun keputusan Juju itu merupakan keputusan yang besar.ketika dia memutuskan untuk tidak menikah  ia berani menentang aksioma yang dianut oleh kebanyakan masyarakat.  atau ketika ia menikah, itu bentuk pengkhianatan terhadap kepercayaan yang ia yakini.

mari kita beri tepuk tangan yang meriah untuk Juju.

3. mereka siap untuk tidak pernah tenang

ketika seseorang memutuskan sesuatu. segala sesuatu akan berubah. tepat di mulai saat keputusan itu dibuat. seseorang yang memutuskan untuk keluar dari kampus dan lanjutin bisnis yang dibuat sama rekan-rekannya harus siap dihujani pertanyaan dari orangtua. seseorang yang memutuskan untuk naik ke pemilu dan jadi presiden harus siap jadi presiden beneran dan ngurusin urusan negara selama satu periode penuh. seseorang yang memutuskan untuk jadi seorang ibu harus siap tidur dengan tidak nyeyak selama 5 tahun karena balita itu rewel atau ibu harus siap mendidik anak yang bukan perkara mudah.

sekarang bagian mana dari tiga contoh di atas yang bisa dikategorikan sebagai kehidupan yang tenang. konsekuensi-konsekuensi itu harus siap dijalankan.
sedangkan kita (mungkin gak semua sih) yang gak berani buat keputusan akan terus menerus hidup dalam zona nyaman. gak kemana-mana. emang enak sih masalahnya yaa mediocre aja. tapi ya begitu, kita gak akan kemana-mana di sana aja, jadi pengamat yang gak pernah bisa jadi objek pengamatan. sad true.

dari hal-hal di atas gue sellu berusaha untuk, at least, melakukan sesuatu. tapi ya begitu, menyedihkan memang gue ini.

mungkin. lain waktu gue akan cerita seberapa menyedihkannya gue tanpa bermaksud untuk tidak bersyukur. tapi gini deh, kita harus lihat ke atas supaya kita terpacu untuk lebih maju, kan? tapi juga gak lupa buat terus lihat ke bawah supaya ingat kalau ada mereka yang bahkan untuk bisa dapat setengah dari apa yang kita punya harus ngeluarin keringet segalon.

berkembanglah, jangan pernah merasa cukup. tapi pastikan perkembangan itu menciptakan efek domino yang baik bukan sebaliknya:)

hehe

finally

gue

ngeblog

lagi

good night peeps!

Share:

15 Agustus 2017

AKAN DIBACA 10 TAHUN MENDATANG

Setelah ketemu banyak temen yang jarang banget ketemu dan cerita-cerita banyak hal gue jadi tau kalau ternyata blog gue ini dibaca banyak orang daaan selama ini tulisan gue isinya gak bermutu semua. Kaget dong tiba-tiba nyokap bilang kalau suka baca tulisan blog gue. asta....oke ganti, Ya Allah gue bahkan menulis kegalauan dan kebodohan gue di blog ini dan blog ini jauh dari kata ‘berintelek’ at all.

Mulai dari postingan ini gue akan sedikit pencitraan ya. Soalnya gini, oke lah ini blog isinya daily life gue tapi gak sampe hal-hal gak berguna juga share ke public kalo sampe guru dan nyokap gue baca!!!! Ya Allah aing mah....asik bahasanya ‘aing’ udah pake ‘aing’ cie ke-aing-aing-an :D

Nah berhubung gue mau pencitraan gue bakal cerita nih planning gue ke depan.  Tahun ini gue menginjak 20 tahun usia gue di muka bumi ini. Baca-baca postingan orang di line tentang “Menginjak Usia 20 Tahun” bikin gue mikir kalau gue udah bukan anak-anak lagi. Udah gak bisa kebanyakan ngetawain hal gak penting dan ngabisin uang buat hal yang gak penting kayak sebelum-sebelumnya. Dulu, gue kerja, dapet duit gue karoeke, gue nonton, segala macem yang sumpah unfaedah sekali.  Sekarang, ya paling enggak apa yang gue feed ke otak gue itu berguna lah ya. Terus gue udah harus bener-bener ngurang-ngurangin baca novel yang isinya cinta-cintaan yang entah dikarang sama orang kebanyakan ngayal. Ngabisin ratusan ribu Cuma buat baca novel yang setiap isinya, endingnya sama kalo gak mati ya nikah. Gak ada tuh yang nikahin mayat wkwk

Gue gak ngejelek-jelekin penulis novel picisan sih, Cuma dalam rangka memperbaiki hidup gue sebelum terlambat ya inilah cara gue. gue salut sama orang-orang yang konsisten menulis tapi kita juga harus tahu bahwa setiap masa ada orangnya dan setiap orang ada masanya. Pasar penulis novel picisan yang anak-anak SMP kayak gue dulu. Itu orang pada masanya yang emang lagi punya gelora cinta monyet. Sekarang, menginjak kepala dua udah bukan masanya lagi gue ngebayangin dibawain bunga sama cowok terus diajak dinner di lantai 100 gedung pencakar langit.

Dan emang berasa sih banyak perubahan di diri gue, gimana cara gue ngeliat dunia, menilai diri gue, memberikan penghargaan ke diri gue, menilai teman, memberi penghargaan ke teman termasuk mempertahankan yang harus dipertahankan dan merelakan yang harus direlakan.
Dalam beberapa masa ke depan, 5 tahun, 10 tahun 15 tahun ke depan gue akan menghadapi diri gue dengan situasi mental dan segala aspek lainnya yang berbeda. Entah apa yang akan terjadi ke depan. Rasanya lancang kalau gue seolah mendahului taqdir. Tapi, biarkan gue berandai-andai akan menghadapi diri gue dengan cara yang profesional di kemudian hari.

Pendidikan, karier, percintaan, ekonomi, segala hal yang sekiranya orang-orang dewasa akan lalui. Hampir seluruh orang di dunia ini pasti ingin mapan, kemudian membangun keluarga yang harmonis dengan pendapatan keluarga yang mampu menyokong segala kebutuhan hidup, kemudian dengan keadaan pendidikan yang baik, pasangan yang baik, dan segala hal yang baik dalam arti kata yang sesungguhnya. So, begitu pun gue; setiap gue banyak ngobrol sama teman-teman gue (yang sudah menginjak usia 20) gue akan dihadapi dengan percakapan-percakapan seperti bagaimana suami/istri mereka kelak, bagaimana pendidikan selanjutnya, bagaimana karier mereka, bagaimana mereka meraih segalanya. Beberapa yang lainnya dengan hebat telah memulai bisnis mereka; kafe, usaha clothingan, menerbitkan buku, usaha rendang, menjadi applicant beasiswa s2 di luar negeri  dan lain sebagainya. Gue?  masih sibuk bagaimana menjadikan diri gue diakui oleh orang lain. Stupid.

Kalau begitu mungkin sama halnya, gue sudah merasa harus menata lagi hidup gue.

Di akhir masa SMA gue dan masa awal kuliah,hidup gue benar-benar mengalami banyak guncangan,  lifeless, gue bener-bener membiarkan tubuh gue ada pada titik terlelah supaya lupa tentang kesedihan gue. sampe akhirnya masuk ke semester dua gue sudah mulai hidup kembali. Keterima di BEM dan ngabisin banyak waktu buat kajian dan kajian, megang banyak acara fakultas, sibuk bikin tulisan ini itu, begadang begini begitu, gue bernyawa kembali, menemukan sesuatu yang telah lama hilang, atau sebenarnya bukan telah lama hilang tapi telah lama bersembunyi karena seperti tahu kehadirannya tak akan dapat acuhan.

Memasuki masa ini begitu banyak yang berubah, semakin  banyak permasalahan yang gue temui dan harus gue hadapi. Gue sadar sudah bukan saatnya lagi gue ngadu ke Ayah ketika ada masalah atau minta tolong Mama buat bantuin gue keluar dari masalah. Segalanya menjadi kompleks, gue harus bersabar, harus belajar, harus menerima diri gue dan harus membangun network. Bukanlah hal yang mudah. Tapi satu yang gue yakini; gue gak mungkin akan hidup tanpa kebaikan kalau gue telah menebar kebaikan. Kebaikan untuk diri gue sendiri dan orang lain.

Daya juang gue yang harus lebih tinggi lagi di bawah pressure yang tinggi juga ngebuat gue harus 
gak boleh ngerasa putus asa. Setidaknya nyokap gue adalah perempuan yang paling semangat untuk cari uang, ngurus keluarga, ngurus pekerjaan sosialnya dalam satu waktu bersamaan.

“get amazing at something. Wether it’s speaking, writing, painting, etc. Spend everyday getting really good at something. Get spesifically and be the master of it” yap, gue udah harus mulai membuang kebiasaan males-malesan gue dan seenggaknya ngeganti jam-jam gue mainin HP beralih ke baca buku atau nulis atau menghadiri kuliah-kuliah umum. “meet new people”.

Membicarakan planning atau membicarakan mimpi?

Rencana gue ke depan, ya setidaknya gue akan membuat to-do-list buat diri sendiri dan gue pajang gede-gede di atas kasur biar kalau mau tidur gue baca. Magang buat semester depan dan magang lagi di semester depannya (Semester 3 dan 4) gue pengen banget magang di kantor firma hukumnya Prof. Yusril heu. Terus RENCANANYA selesai BEM periode ini gue akan ikut organisasi internasional ekstra kampus, terus RENCANANYA juga semester 4 gue akan dape skor 600 di tes TOEFL gue. RENCANANYA lagi dalam satu tahun ke depan setidaknya gue memenangkan paling tidak satu kompetisi hukum.  Aamiin.

Planning jauhnya gue sangat ingin kuliah S2 di belanda ambil hukum di universitas Amsterdam. Aamiin. Banyak orang yang nanya, gue mau jadi apasih nanti? Semacam pertanyaan tentang cita-cita. Jawaban gue simple “gue mau mendidik”. Entah jadi dosen, entah jadi tenaga pendidik di mana gitu. Yang penting gue jadi pendidik yang menyalurkan ilmu hukum yang gue punya. Karena ya gue sadar, gue perempuan dan gue gak bisa terlalu sibuk sama karir gue. kelak gue akan punya keluarga dan gue akan menjadi orang yang mengurusi rumah gue. so, menjadi pendidik gue rasa adalah pekerjaan yang fair buat orang yang ingin bekerja sekaligus ingin mengurus rumahnya.

Insyaallah nanti tulisan ini 10 tahun lagi akan gue baca, dan gue akan lihat bagaimana do’a, usaha, dan nasib membawa gue. gue ini hanya seorang hamba yang masih banyak mainnya. Tapi, menginjak usia 20 tahun gue ingin hidup gue lebih tertata lagi. Supaya setidaknya ketika gue tua, gue tidak akan memaki diri gue ketika muda dan menjadikan semuanya sebagai penyesalan belaka. Aamiin.




Share:

09 Juni 2017

MENIKMATI RASA SAKIT

Menikmati rasa sakit

Kadang kita gak punya pilihan lain ketika sakit datang selain menikmatinya.  Gue berpikir demikian karena gue setiap bulan selalu merasakan sakit ketika tamu bulanan gue datang. Sakit yang bener-bener ekstreem bruhh!  Sampe gak bisa berdiri apalagi jalan, muka gue pucet pasi, gue menggigil keringat dingin, mual, muntah-muntah, setiap ada aroma yang nyengat dikiiit aja gue langsung muntah, gak bisa masuk makanan ataupun minuman kecuali air putih hangat selama beberapa hari, kalau enggak gue bakal muntah. Pokoknya dalam waktu 1-3 hari gue bakal kayak mummi hidup. 

Rasanya kayak rahim disayat-sayat pisau terus diputer-puter, muka pucet, dikit-dikit muntah dan jalan kayak orang abis sunat. Pernah gue sekali gebatalim nge-MC di sebuah acara karena tiba-tiba di hari H gue dapet, pernah juga gue lomba debat dengan keadaan gue datang bulan hari pertama dan gue Cuma bisa melintir di meja eksekusi tanpa melakukan apapun.

Kalo kata dokter sih rasanya kayak orang hamil muda. Tapi berhubung gue belum pernah hamil jadi gue gak bisa nyamain. Dokter cerita tentang hamil yang bikin gue makin panik buat hamil. “ini sih gak ada apa-apanya dibandingin hamil, kak. Tapi ya sedikit mirip lah rasanya” innalillahi, belum hamilnya aja gue udah begini apalagi hamilnya.

Gue pun akhirnya ngadu ke nyokap,  hidup gue seperti dihantui. Setiap tanggal 20 setiap bulannya gue selalu ketar-ketir nunggu kapan waktu sakit itu datang. Sumpah gue frustasi.  Nyokap bilang “coba rasa sakit itu jangan kamu lawan, nikmati aja, istighfar, tarik nafas, bilang ke Allah kalau kamu ikhlas nerima rasa sakitnya” Nyokap nasehatin gue sambil metikin daun singkong untuk disayur. Gue ikut memetik daun hijau tua itu sambil menerawang banyak hal. “kamu fikir dulu mama ngelahirin kamu itu gak sakit? Demi Allah mama gak pernah merasakan sakit yang lebih sakit dari melahirkan kamu. Tapi mama berusaha menerima, menikmati rasa sakitnya. Mama yakin sakit ini ibadah, sakit ini akan kasih pelajaran buat mama. Rasa sakitnya memang tetap terasa, tapi kalau kita menerima, kalau kita menikmati, sakitnya akan terasa sebagai  bagian dari dalam diri” Nyokap berbicara sambil tersenyum. Gue heran kenapa senyum nyokap selalu bisa bikin gue mengerti apapun yang nyokap katakan dengan tangkas. Senyuman itu menghipnotis gue, seketika ajaran nyokap langsung terinternalisasi ke dalam diri gue, gue mengangguk mafhum. “kalau kakak sudah terbiasa menikmati rasa sakit kakak akan tahu bahwa dari kesakitan kita akan bersyukur ketika kita sehat”. Nyokap membersihkan lantai yang kotor dari potongan-potongan batang daun singkong.

Kadang kita sering mengutuk kesakitan dan lupa kalau kata “sehat” itu ada karena ada kata “sakit”. Sebelum mama ngajarin gue untuk menikmati rasa sakit gue selalu marah ketika rasa sakit itu datang. Mau flu kek, batuk, demam atau apapun. Gue kesel kenapa gue harus sakit, kemudian gue mengeluh dan gue lupa kalau sakit itu mungkin sebagai  tanda kalau Allah rindu kita beristighfar.

Tapi, bukan juga berarti kita nerimo-nerimo aja sakitnya, kita tetap harus berusaha untuk mengobati  sakitnya. Gue tetap ke dokter, minum obat, bed rest kalau sakit. Tapi lebih dari itu kita pasrah. Itu sih yang gue dapet dari nyokap dan gue menerapkannya.

Memang bener sih,  kalau gue ngeluh sakitnya sama sekali gak berkurang malah semakin parah kontraksinya. Tapi, kalau gue tarik nafas, tenang, menikmati rasa sakit jadinya tuh apa yaa....rasanya kayak sakit itu jadi bagian dari diri gue yang gak harus gue lawan tapi gue kawani.

Kedengarannya memang absurd sih, awalnya juga gue rada aneh denger dari nyokap, tapi pas gue praktekin sumpah muccchhhhh better! Sekarang, setiap gue kecewa, sakit, sedih gue selalu berpikir dua kali buat ngeluh bahkan mungkin malu kali ya buat ngeluh. Biasanya sih paling gue curhat aja ke sahabat-sahabat gue selebihnya gue lebih sering nikmatin aja sendiri.

Semua yang terjadi tuh tergantung prespektif sih. Kalau gue mandang sebuah kejadian buruk sebaik apapun kejadian itu ya bakal tetep buruk dampaknya buat gue. tapi sebaliknya seburuk apapun yang gue alami kalau gue memandang itu dari sudut pandang yang baik pasti akan ada kebaikan yang gue dapat. Ya, sakit itu contohnya.

Mengawini rasa sakit ya kayak mengawini seseorang sih. Hidup gue gak akan selamanya fine-fine aja ketika gue kawin sama seorang lelaki misalnya. tapi ketidakenakan itu ya udah sepaket sama enaknya hidup sama dia. Gak bisa egois Cuma mau yang fun aja tapi gak mau yang gak enaknya. Gituu hehehe... 

Entah postingan ini terasa gue sangat menggurui, tapi gue lihat tadi siang nyokap gue sakit dan nyokap bilang “kakak tolong siapkan buat buka puasa adek-adek ya, badan mama agak gak enak” nyokap melipat mukena putinya sambil diam, gak ngeluh, gue menutup pintu kamarnya sambil yakin Allah sedang menghapus dosa Nyokap.

ini mama:D




Share:

18 Mei 2017

Dalam gerakan lambat saya mengetik pad yang ada di handphone jadul keluaran 5 tahun lalu. Menekan satu persatu huruf agar yakin apa yang  tertulis tidak mengandung kata-kata yang semakin dapat membuat kamu membenci saya. saya menghirup napas panjang, membaui aroma Bandung malam yang dingin. Sambil sesekali menyedot ingus yang terus keluar dibarengi air mata yang mengembun di kacamata.

Kita jauh, jarak yang yang terlampaui oleh kekuatan. Saya pahami itu betul. Saya tidak marah atau membenci keadaan ini tapi kalau boleh saya bilang ke kamu tanpa kamu merasa tersindir; saya ingin sekali kamu ada di sini. Biar lihat seberapa saya mencintaimu.

Kalimat itu semakin panjang, dan baru sadari sejak kata pertama tadi saya tak meletakkan koma ataupun titik. Semua mengalir perlahan seperti sebuah pertanda bahwa begitu banyak yang ingin saya sampaikan. Semua ini berat untuk kita, untuk kamu, dan untuk saya. tapi saya yakin entah karena saya sedang bodoh atau entah karena saya sedang begitu mengagumimu semua begitu menyenangkan untuk saya lalui.

Kadang saya benci sama negara ini. Kenapa ia harus tercipta dalam gugusan pulau yang membuat saya jadi harus jauh sama kamu.

Dan saat ini saya tahu kamu sedang marah, sedang membenci saya, sedang mengatakan berulang bahwa kamu membenci saya, sedang menolak saya, sedang menghakimi saya, sedang memaki saya. tapi kamu jauh, di sana, entah sedang apa, entah sedang mengenakan baju apa, entah sedang dengan ekspresi apa, entah sedang dimana.

Tapi yang perlu kamu tahu bahwa, saya selalu memikirkannya, memikirkan apa yang sedang kamu lakukan, jenis makanan apa yang sedang kamu makan, sepatu apa yang kamu gunakan, kemeja apa yang kamu kenakan, dimana kamu sholat isya malam ini. Saya selalu ingin tahu.

Saya tidak ingin kamu marah, karena saya takut. Saya takut amarahmu menjadikan kamu menjauh dari saya. saya tidak ingin kamu jauh, saya tidak ingin kamu mengehentikan asupan dopamin di dalam tubuhmu ketika nama saya muncul di layar hadphonemu. Karena saya mau kamu.

Udara malam semakin dingin, balkon kamar saya yang sepi membuat angin semakin menusuk tulang saya. Teh serai yang tadi masih panas sudah dingin ketika saya tenggak.

Saya menatap nanar layar handphone, saya ingin mengatakan langsung ke kamu sebenarnya. Tanpa perantara benda hitam dan kotak ini. Saya ingin mengatakan sambil memegang kelingkingmu karena mungkin saya tak cukup punya keberanian untuk menggenggam pergelangan tangan yang ukurannya lebih besar dari punya saya.

Tarikan nafas saya semakin dalam. Saya menghapus jajaran kata panjang yang telah memenuhi layar ponsel. Saya mengetikkan sebuah kalimat dengan cepat, “tetaplah dekat, saya sayang kamu, Cik” lalu mengirimnya. Tak sampai satu menit kamu membalas, “haha insya Allah ya”. satu detik setelahnya air mata saya jatuh dan semakin menderas.



Bandung, Jawa Barat, Mei-18- 2017.
Share:

06 Mei 2017

TENTANG KETAKUTAN

Manusia Cuma mau ngeliat apa yang ingin mereka lihat.

Gue adalah orang yang sangat penakut. Oke, ini adalah fakta gak penting sekaligus aneh. Buat teman-teman yang tau gue tapi kurang mengenal mungkin aneh kali ya tau kalo gue itu penakut. Gue takut hampir sama semua hal; hantu, setan, darah, penjahat, orang galak. Gitu-gitu lah. Sebagai orang yang dicap agak rebel memang aneh kalau sebenarnya deep inside gue sepenakut itu. sering banget karena teman gue gak tau kalau gue penakut mereka ajak gue nonton film horror di bioskop. Karena keki lah kalau gue menolak karena alasan takut, gue pun memberanikan diri sambil bilang ke diri sendiri, “paling gak serem hay. Plis deh itukan make up, boongan” tapi tetep aja 5 menit film mulai gue mulai gelisah, 10 menit gue mulai menutup seluruh wajah gue dengan apapun, 15 menit gue mulai gerak-gerak, 20 menit film berlangsung gue minta pulang. Sambil masang muka panik. Iya, segitunya. 

Hampir mustahil rasanya gue selesai nonton film horror. Awalnya sok berani tapi tetep aja, jiwa penakut gue mengaahkan jiwa gengsi gue. Mereka bertempur di dalam diri gue dan jiwa penakut gue menang.

“ayok plis banget sih, pulang”

“kenapa pulaang baru 20 menit, Hay”

“gue takut pingsaaan huhuhu”

“hah kenapaaa?”

“gue takut banget” lalu air mata mengalir di pipi gue.

APALAGI PAS NONTON INSIDIOUS 2 YA ALLAH. RASANYA MENDING GUE DIKIRIM KE JALUR GAZA DEH DARIPADA NONTON ITU. PARAH, GUE FRUSTASI PARAH!

Sampe akhirnya gue cenderung menghindari hal-hal yang tidak ingin gue lihat. Gue sering malah kabur kalo lihat darah, gue lebih memilih jalan muter jauh daripada harus lewatin jalan yang katanya horror, gue cenderung menghindari obrolan-obrolan horror dan ekstreem.  Alasannya sederhana; karena gue takut. Padahal ketika kita hanya ingin melihat apa  yang ingin kita lihat, kita meninggalkan sesuatu yang sebenarnya perlu kita lihat dan tahu.

Minggu kemarin salah seorang teman gue  pingsan karena kekurangan darah. Jarinya keiris pisau dan gue yang selalu takut ngeliat darah panik bukan main. Gue Cuma berdua sama dia di rumah dengan kondisi dia yang gk berdaya dan darah dimana-mana. Gue baru tau kalau orang darah rendah itu mudah banget darahnya ngalir kayak keran gitu.

Gue kesel, kenapa selama ini gue gak tau apa-apa tentang mengatasi orang yang pingsan karena gue selalu menghindar dengan alasan takut. Gue lebih baik menghindar jauh-jauh daripada harus mengahadapi ketakutan gue.

Gue kalah.

Ketakutan itu sesuatu yang wajar sekali. Itu sebuah tanda bahwa otak mewarning diri kita. Untuk lebih berhati-hati menjaga.

Semakin tua, semakin besar, semakin uzur semakin banyak daftar ketakutan.

Waktu gue kecil, gue cuma takut sama; mama. Takut kena marah, takut pulang sore, takut mama ngomel. Udah, sesimpel itu, bahkan gue berani lawan kecoak daripada lawan mama. Semakin besar ketakutan gue ke mama berubah menjadi sebuah perasaan aneh yang belakangan gue ketahui sebagai perasaan cinta.

Semakin besar gue takut akan banyak hal, waktu SD gue banyak menemukan teman-teman antagonis yang karakternya diilhami oleh sinetron “Bidadari”, dan bodohnya gue takut sama mereka. Entah, ada seorang teman perempuan berbadan tinggi yang selalu bertingkah kayak ratu. Semua orang harus tunduk sama dia. Gue melawan, gue gak suka kesewenangan dia, gue berantem sama sang ratu dan akibatnya dari kelas 3 SD sampe kelas 6 SD gue dimusuhi. Itu membuat gue agak sedikit depresi.

Gue benci orang-orang, gue benci sosial, gue benci mereka yang kuat terus punya pasukan menindas seenaknya. Gue idealis ya? Ah, enggak, itu bentuk kebodohan karena gue peduli sama si ratu itu. harusnya gue gak perlu repot-repot ambil pusing.

Setiap pulang sekolah gue selalu dikejar-kejar oleh beberapa anak laki-laki suruhannya si ratu. Memang sih mereka gak melakukan apa-apa. Tapi, intinya gue merasa terintimidasi dan gue takut.

Karena ketakutan itu gue belajar, gue belajar kalau gue gak harus ambil pusing sama tingkahnya yang semena-mena. Toh, dia menyebalkan dan beberapa orang memang diciptakan sebagai orang yang menyebalkan. Sepanjang dia gak ngerebut bekal gue, seharusnya gue tidak perlu sepeduli itu.
Mungkin juga Sang Ratu sebenarnya takut kehilangan eksistensinya, makanya dia begitu. Entah lah.

Semakin besar, SMA gue takut sama banyak hal. Ketakutan gue bertambah seperti tumpukan penderitaan yang semakin lama semakin menggunung. SMA gue takut sekali sama yang namanya jatuh cinta. Gak tau kenapa. Agak lucu sih setelah disadari.gue berpikiran kala itu, kalau jatuh cinta akan membuat gue runtuh. Meskipun gue gak tau bagaimana rasanya jatuh cinta. Tapi benar hal yang kita takuti lambat laun akan datang dan siap gak siap ya harus siap.

Benar, gue jatuh cinta dan kemudian gue runtuh.

Keruntuhan itu membuat gue belajar banyak hal. Sangat banyak bahkan. Yang gak mungkin gue ceritakan di sini.

Semakin besar,  gue takut kehilangan keluarga gue, takut kehilangan sahabat-sahabat gue, takut kehilangan apa yang sekarang gue miliki, gue takut IP gue jelek, takut beasiswa gue dicabut, takut tulisan gue gak dibaca, takut gak bisa ikut UAS. Banyak, gue punya banyak ketakutan sekarang.

Tapi, kemudian gue ingat bahwa gue pernah belajar, ketakutan itu ada, dia adalah musuh yang ada dalam diri. Gak semua musuh harus diserang. Beberapa musuh akan menyerang atau lelah karena menunggu kita tak pernah menyerang duluan. Menghadapi musuh itu butuh strategi.

Gue agak kurang setuju sama pendapat teman gue yang bilang “ketakutan itu tidak ada, dia adalah bentuk ketidakmampuanmu”. Bagi gue, ketidakmampuan selalu ada dan ketakutan menjadi selalu ada. Kalau kita berpikir kita selalu mampu, kita tidak akan pernah belajar. Kalau semua orang merasa dirinya mampu, mungkin pendidikan gak akan lagi jadi kebutuhan primer.

Mungkin setan atau hal horror adalah musuh yang tidak perlu gue usik keberadaannya. Tapi, cara mengatasi orang pingsan karena kecelakaan merupakan musuh yang harus gue datangi dan gue lawan. Tidak semua hal perlu kita beri kekuatan untuk melawan. Tapi beberapa lainnya sangat perlu.

Manusia cuma mau ngeliat apa yang ingin mereka lihat. Ya memang benar, sekarang pertanyaannya; seberapa banyak yang ingin kita lihat? Sedikit? Seluruhnya? Banyak? Atau tidak sama sekali dan berpura-pura untuk tidak melihat.




Share: